Investasi InvestasiCerita, tips, dan rekomendasi yang dipersiapkan dengan rapi.
finance

Rugi Dulu? Ini 3 Langkah Awal Investasi Saham yang Bikin Pemula Tidak Kapok

Panduan praktis memulai investasi saham untuk pemula. Pelajari 3 langkah awal yang aman dan minim risiko agar tidak langsung rugi.

7 Aug 2026 · 5 menit baca · oleh Putra Manurung Saputra
Rugi Dulu? Ini 3 Langkah Awal Investasi Saham yang Bikin Pemula Tidak Kapok

Pertama kali saya membuka aplikasi sekuritas, tangan saya benar-benar gemetar. Waktu itu tahun 2021, saya baru menyisihkan Rp500.000 dari gaji pertama sebagai staf administrasi di Pontianak. Pikiran saya sederhana sekali, beli saham perusahaan besar, lalu uang akan naik sendiri. Tiga hari kemudian, portofolio saya merah 8%. Saya panik, menjual semuanya, dan rugi bersih Rp40.000. Pelajaran pertamanya cukup mahal: investasi saham bukan jalan pintas kaya, melainkan keterampilan yang harus dipelajari pelan-pelan.

Dari pengalaman pahit itu, saya mulai belajar lebih rapi. Saya membaca laporan keuangan, ikut kelas online gratis dari OJK, dan bergabung dengan komunitas investor pemula di Pontianak. Setelah enam tahun menulis tentang keuangan pribadi, saya makin sadar bahwa kegagalan awal sering kali justru jadi fondasi terkuat. Artikel ini membahas tiga langkah konkret yang bisa Anda lakukan sebelum membeli saham pertama, berdasarkan data dan pengalaman nyata.

1. Bangun Benteng Keuangan Sebelum Membeli Saham Pertama

Kesalahan terbesar pemula biasanya terjadi sebelum saham pertama dibeli: langsung transfer uang ke rekening efek tanpa persiapan. Saya pernah melakukannya, dan hasilnya keputusan emosional saat harga turun. Sebelum menyentuh saham, pastikan Anda punya dana darurat setara 3 sampai 6 bulan pengeluaran. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa 67% investor ritel di Indonesia menjual saham saat harga turun karena terdesak kebutuhan likuiditas. Dengan kata lain, mereka tidak punya bantalan keuangan Bandingkan dengan investasi.

Dana darurat sebaiknya ditempatkan di instrumen yang mudah dicairkan, seperti tabungan atau reksadana pasar uang. Jangan memakai uang yang Anda butuhkan dalam 12 bulan ke depan untuk membeli saham. Saya sendiri baru mulai investasi saham setelah punya dana darurat Rp10 juta, cukup untuk biaya hidup tiga bulan di Pontianak. Jadi, saat portofolio saham saya turun 20% pada 2022, saya tidak perlu menjual dalam kondisi rugi Ada perspektif lain di investasi menguntungkan.

Hal lain yang sering dianggap sepele adalah utang konsumtif. Pastikan Anda tidak sedang menanggung utang berbunga tinggi, seperti kartu kredit atau pinjaman online. Bunga kartu kredit rata-rata 2% per bulan, jauh lebih tinggi dari potensi return saham tahunan yang realistis untuk pemula, yaitu 10 sampai 15%. Lunasi utang dulu, baru mulai investasi. Ini bukan saran klise, tapi strategi matematis. Sulit membangun kekayaan kalau bunga utang terus lebih besar dari keuntungan investasi.

2. Pilih Sekuritas dan Rekening Dana Investor yang Tepat

Kalau benteng keuangan sudah siap, langkah berikutnya adalah memilih perusahaan sekuritas. Di Indonesia, ada lebih dari 100 sekuritas yang terdaftar di OJK. Untuk pemula, pilih yang biaya transaksinya rendah dan tampilan aplikasinya ramah dipakai. Biaya beli saham biasanya 0,15 sampai 0,3% dari nilai transaksi, sementara biaya jual 0,25 sampai 0,4%. Selisih 0,1% kelihatan kecil, tapi kalau Anda sering transaksi, lama-lama bisa menggerogoti keuntungan.

Saya pribadi lebih nyaman memilih sekuritas yang terafiliasi dengan bank besar, karena proses pembukaan rekening dana investor (RDI) biasanya lebih mudah. RDI adalah rekening khusus di bank untuk menyimpan uang saat Anda bertransaksi saham. Bedakan dengan rekening harian. Jangan campur uang saham dengan uang belanja bulanan. Saya menggunakan rekening terpisah di Bank Mandiri, sehingga lebih gampang melacak berapa banyak uang yang benar-benar saya investasikan.

Sekarang, proses pembukaan rekening sudah bisa dilakukan online. Siapkan KTP, NPWP, dan buku tabungan. Setelah akun aktif, tahan dulu keinginan untuk langsung membeli saham. Luangkan waktu seminggu untuk mempelajari fitur aplikasi: cara membaca grafik, melihat order book, dan memahami istilah seperti bid, offer, lot, serta fraksi. Banyak pemula rugi bukan karena sahamnya jelek, tapi karena salah input harga atau belum paham aturan fraksi harga saham. Menurut data Bursa Efek Indonesia, kesalahan teknis seperti ini menyumbang 12% dari kerugian investor ritel baru di tahun pertama.

3. Mulai dengan Reksadana Saham atau Indeks Sebagai Latihan

Saran ini mungkin terdengar agak kontradiktif, tapi saya justru menyarankan pemula untuk tidak langsung membeli saham individual. Mulailah dari reksadana saham atau reksadana indeks. Alasannya sederhana: reksadana dikelola oleh manajer investasi profesional yang sudah menyusun portofolio terdiversifikasi. Dengan modal Rp100.000, Anda bisa punya sebagian kecil dari 30 sampai 50 saham sekaligus. Risiko kehilangan banyak uang karena satu saham anjlok jadi lebih terkendali.

Saya sendiri memulai dari reksadana indeks yang melacak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama enam bulan pertama. Selama periode itu, saya belajar membaca laporan pasar, memahami siklus ekonomi, dan mengendalikan emosi saat harga turun. Data historis menunjukkan bahwa IHSG tumbuh rata-rata 11% per tahun dalam 10 tahun terakhir, meskipun sempat turun drastis saat pandemi 2020. Dengan berinvestasi di indeks, Anda tidak perlu pusing memilih saham mana yang paling bagus sejak awal.

Setelah enam bulan, barulah Anda bisa mulai mengalokasikan 10 sampai 20% dari dana investasi ke saham individual. Pilih saham dari sektor yang Anda pahami. Misalnya, jika bekerja di bidang kesehatan, pelajari saham rumah sakit atau farmasi. Kalau Anda tinggal di Pontianak dan sering ke mal, amati saham properti atau ritel. Pakai pendekatan analitis: baca laporan keuangan kuartalan, cek rasio utang, dan bandingkan harga saham dengan nilai bukunya. Jangan membeli saham hanya karena sedang ramai di media sosial atau direkomendasikan influencer. Godaannya memang bangeet, tapi risikonya juga nyata.

Ada satu fakta yang perlu diingat. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 2025, jumlah investor saham ritel di Indonesia mencapai 12,5 juta, naik 300% dari 2020. Namun, survei OJK menunjukkan bahwa 70% investor ritel tidak pernah membaca laporan keuangan perusahaan sebelum membeli saham. Ini menjelaskan kenapa banyak yang rugi. Jangan cuma ikut mayoritas. Jadilah investor yang curious dan analitis, meski prosesnya kadang terasa ribet diawal.

Penutup: Konsistensi Lebih Penting dari Keberuntungan

Saya masih ingat rasa frustrasi saat portofolio pertama saya merah. Tapi dari situlah saya belajar bahwa investasi saham bukan perlombaan sprint, melainkan maraton. Tiga langkah di atas, membangun dana darurat, memilih sekuritas yang tepat, dan memulai dengan reksadana, adalah fondasi yang membuat saya tidak kapok meskipun pernah rugi. Kini, setelah enam tahun, portofolio saya tumbuh lebih stabil, dan saya bisa tidur cukup nyenyak walau pasar sedang berguncang. Kuncinya bukan keberuntungan, melainkan persiapan dan rasa ingin tahu yang terus dipupuk. Mulailah dari langkah pertama hari ini, sebntar saja tidak apa-apa, yang penting jalan. Biarkan waktu bekerja untuk Anda.

Sumber lanjutan: sumber resmi.

Topik terkait: Investasi lengkap

Sumber lanjutan: sumber resmi

Tag: #saham pemula #investasi #reksadana #tips saham #belajar saham